SRIKANDI Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan satu ini tidak asing lagi dalam kancah perpolitikan di Kota Jambi. Maria Magdalena Vatresia --atau yang lebih akrab Kak Maria-- merupakan salah satu anggota DPRD Kota Jambi yang fenomenal. Minim pengalaman organiasi, Maria mampu menjadi anggota Dewan selama tiga periode berturut-turut.
Ketika menuntaskan pendidikan sarjana di “Kota Kembang” Bandung, Maria tidak pernah berpikir akan kembali ke Jambi untuk berpolitik. Justru yang dia lakukan sebelum masuk partai berlambang banteng moncong putih itu adalah mengajar di salah satu SMA negeri favorit di Kota Jambi.
Dalam perbincangan hangat bersama Metro Jambi pada akhir pekan lalu, Kak Maria menceritakan bagaimana transformasi karirnya dari seorang guru honorer yang tidak mengerti politik tapi malah berhasil menembus gedung wakil rakyat.
Bagaimana awal Kak Maria terjun ke politik?
Tamat kuliah, saya kembali ke Jambi pada 2002 kan “sepi”. Saya mencoba ngajar di sekolah, ingin memperbanyak teman.
Pertama ikut organisasi diajak oleh salah satu pengurus PAC PDIP Kotabaru. Saya kemudian dikenalkan kepada Wakil Wali Kota Jambi Pak Turimin (almarhum). Ngobrol-ngobrol, saya disuruh ikut PAC. Tahun 2004 saya jadi pengurus, tahun 2009 langsung nyaleg.
Itu saya nothing to lose (tanpa beban, red) aja, ikut aja di pencalegan. Ternyata saya menyukai itu: belajar berjuang dulu, bukan berpolitik.
Jadi, tidak terpikir masalah politiknya. Karena kan saya GTT (guru tidak tetap, red) di SMAN 3, saya melihat persoalan guru ini banyak, persoalan pendidikan ini banyak. Maka saya berjuang dulu, yang penting nyaleg. Kalau duduk di DPRD, saya mau berjuang untuk guru dan sekolah.
Siapa orang yang mengajak ini?
Ada, namanya Pak Erwin Suratman. Beliau yang ngotot banget (mengajak ke PDIP), meminta KTP saya, dijadikan pengurus. Terus, karena harus ada keterwakilan perempuan juga.
Saya kan nggak ngerti zaman itu. Cuma aktif saja di PDIP. Disuruh pasang bendera, saya pasang bendera; disuruh jadi saksi, ya, jadi saksi.
Jadi, benar-benar nggak tahu apa-apa. Waktu musim pendaftaran caleg, kekurangan perempuan, maka pada 2008 saya didaftarin. Saya sampai foto cuma pakai HP aja, diedit. Lalu disuruh tes kesehatan. Nah, nggak tahunya turun beneran.
Waktu itu, 2008, aturannya masih nomor urut. Jadi saya tuh turun, tapi nggak tahu berhasil atau tidak. Ternyata pada 2009, sebelum pemilihan, keluar Keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak.
Saya sudah terlanjur sering turun. Ketua DPC saya incumbent Pak Zuzuis Asikin. Dia yang mengajari saya berjalan dengan proses itu, eh malah kalah oleh saya.
Saya duluan turun, beliau nggak. Kan saya nggak tahu, dengan kepolosan, bahwa kalau nyaleg harus turun. Bahasa untuk promosi diri saya juga belum paham. Pokoknya saya mau berjuang untuk guru dan pendidikan, gitu aja sosialisasinya. Kan polos aja.
Adakah dalam keluarga yang lebih dulu terjun ke dunia politik?
Ada, paman saya dua periode DPRD Provinsi Jambi, Sofyan Pangaribuan, adik ibu saya. Dia PDIP memang, tapi dia kaget waktu saya jadi pengurus.
Dia kan nggak tahu saya bakal bergabung. Pas waktu pencalegan dia juga nanya, “Ikut juga, ya, nyaleg?” Malah paman sendiri nggak tahu.
Dia mungkin berpikiran saya anak bungsu, cewek sendiri, ya nggak bakal mampu lah gitu kan. Kalo sekarang banyak sepupu yang berpolitik, sebagian dari partai lain.
Kami sekeluarga banyak anggota Dewan, tapi di provinsi lain. Di Riau ada dua orang. Mereka termotivasi setelah saya. Jadi para sepupu nyaleg semua.
Apa sebelum itu sudah aktif berorganisasi?
Nggak pernah. Baru sekarang inilah saya dekat dengan kawan-kawan HMI, GMNI, PMKRI, dan lain-lain. Mereka berkomunikasi dengan saya terus. Saya tuh saat kuliah pasif berorganisasi. Hanya sempat ikut meramaikan aksi-aksi di Bandung.
Kenapa tertarik dengan PDIP?
Ibu saya adalah penggemar Bung Karno. Dari kecil pokoknya zaman itu dia kalo melihat tulisan di koran tentang Bung Karno, dia duduk, dia baca koran itu. Dia nggak mau kemana-mana. Waktu itu kan SR (Sekolah Rakyat) sekolahnya.
PDI itu kan cenderung ke Bung Karno zaman itu. Saya seperti meneruskan apa yang ibu saya bilang, Bung Karno itu kalo rakyat makan jagung, dia makan jagung. Dia selalu menangis dan tertawa bersama rakyat. Itu yang membuat ibu saya seperti, “Kau ikuti apa yang Bung Karno lakukan”.
Saat nyaleg dimana saja basis suara Kak Maria?
Saya kebetulan kan orang Nasionalis. Jadi nggak punya basis isme seperti itu ya. Tapi kalau untuk basis tempat ada. Dulu kan awalnya saya dapil Kotabaru, kemudian dipecah jadi dapil Alam Barajo.
Basis isme saya nggak punya, semua saya rangkul. Pemilih saya tidak terikat pada satu suku gitu karena kan saya cenderung ke nasionalisnya. Dan, itu nggak bisa dibuat-buat. Saya membaur aja ke semuanya.
Apa suka duka yang dialami selama berpolitik?
Orang kan berpikir kalau di politik ini kita cari kekayaan. Nggak ada yang kaya di sini. Yang ada, banyak sosialnya. Kedua, di politik ini tidak memberi kita suatu kesombongan, tapi harus berjuang. Kadang-kadang yang kita alami itu tidak sesuai ekspektasi. Contohnya kebijakan. Kadang kita inginnya ini, ternyata tidak sampai.
Sukanya ya, pastinya kan kita dapat ilmu, dapat teman. Nomor satu masyarakat lah. Setidaknya kita jalan itu ketemu orang, lancar gitu. Ketemu siapa aja kita dihormati, didengar gitu.
Siapa idola Kak Maria dalam berpolitik?
Sama seperti ibu saya, Bung Karno. Karena apa? Nggak ada lagi Bung Karno kedua. Siapa yang bisa mencetuskan ideologi Pancasila, memikirkan Nusantara yang segini besar. Ini negara yang besar. Dia bisa memikirkan keberagaman ini menjadi satu, merdeka, bukan segampang itu loh.
Apa prinsip yang dipegang dalam berpolitik?
Kalau misalnya bantu, membantu yang tulus. Jadi, setulus hati bekerja. Politisi itu kan cuma konsepnya aja. Sebenarnya kita ini buruh rakyat, bekerja untuk rakyat. Konsep politik itu kan lobi-melobi ya. Ketika kepentingan rakyat itu harus kita perjuangkan, ya wajarlah kita melobi. Hanya satu tujuan kita, kepentingan rakyat.
Apa saja yang sudah diperjuangkan atau ide-ide yang sudah disampaikan?
Berdasarkan program, rata-rata belum sampai. Saya memang bukan berdarah Jambi, tapi saya juga ingin Jambi ini besar. Banyak (yang sudah diperjuangkan), masalah pendidikan, terutama menyangkut hak-hak masyarakat. Banyak aturan-aturan pendidikan, dan bantuan sosial. Kalau dikatakan puas, mungkin saya tidak berjuang lagi. Sudah ada memang, tapi belum puas.
Ke depan (2024), apakah ada rencana ke eksekutif atau nyaleg ke DPRD Provinsi?
Lihat penugasan partai lah nanti. Kami kami kan nggak bisa ngomong, mau jadi ini-itu. Tapi kalau partai menugaskan, kita harus siap dimana saja. Kami sesuai instruksi.
Kalo secara pribadi ditanya pengen lebih lah, apa lebihnya, pengen di provinsi atau eksekutif. Tapi kan saya nggak bisa ngomong seperti itu. Tetap harus sesuai instruksi.
Profil Maria Magdalena Vatresia
Lahir : Jambi, 26 Agustus 1976
Ayah : Makmur Tampubolon
Ibu : Nurmida Rediani br Pangaribuan
Pendidikan
- STBA Yapari Bandung, lulus 2001
- SMA Adhyaksa I Jambi, lulus 1995
- SMP Xaverius 2 Jambi, lulus 1992
- SD Nasional Sari Putra Jambi, lulus 1989
Pekerjaan
- Anggota DPRD Kota Jambi tiga periode sejak 2009
- Guru tidak tetap SMAN 3 Jambi
- Kymco, Jambi
- HRD Holding Company PT Naga Agung Inda, Jambi
Organisasi
- Ketua Pengcab Muay Thai Kota Jambi, 2021-sekarang
- Wakil Ketua DPC PDIP Kota Jambi Bidang Ideologi dan Kaderisasi Periode, 2019-2024
- Ketua Badan Saksi Pemilu Nasional PDIP Kota Jambi, 2010-2014; 2014-2019
- Wakil Ketua DPC PDIP Bidang Perempuan dan Anak, 2009-2013; 2014-2019
- Anggota PAC PDIP Kota Baru, 2004-2009.
0 Comments